Polisi Tidur atau Gajah Duduk??

Hampir dua kali dalam setiap harinya aku melewati jalan ini. Gang Perwates, Gang yang menghubungkan Jalan Ridwan Rais dan Jalan Hayam Wuruk di Kota Bandar Lampung. Sebuah gang kecil dengan lebar hanya 2,5 meter, bila pada saat yang bersamaan ada dua kendaraan roda empat yang berlainan arah melaui jalan ini, sudah dipastikan bahwa keduanya akan menjalankan kendaraan dengan sangat lambat karena kurang lebarnya jalan.

Dahulu jalan ini parah kerusakannya, karena sudah lama tidak mendapatkan perhatian pemerintah. Namun belum lama ini angin baik berhembus, jalan yang selama ini rusakpun diperbaiki dan diaspal licin. Tapi apa yang terjadi?? Setelah jalan mulus, polisi tidurpun bermunculan. Beberapa polisi tidur masih memenuhi standar polisi tidur yang ditetapkan, tapi ada polisi tidur yang membuat ku menggelengkan kepala setiap melewatinya, bagaimana tidak, polisi tidur yang dibuat dari campuran semen dan pasir dibuat melintang di tengah-tengah jalan dengan ketinggian lebih dari 20 cm dan tidak di cat. Subhanallah…..

Kalau sudah terlalu tinggi begini bukan lagi polisi tidur namanya, tapi gajah duduk. Fungsinya pun bukan untuk memperlambat laju kendaraan, tapi untuk membuat kendaraan patah As dan pecah velg.

Fenomena keberadaan polisi tidur ini, mulai dari gang-gang sempit hingga jalan-jalan cukup besar yang sering  kita temui sesungguhnya mengindikasikan kondisi masyarakat kita yang sakit. Kalau masyarakat kita sehat, manalah mungkin jalan yang seharusnya tetap mulus dan berfungsi sebagai urat nadi mobilitas masyarakat itu diberi penghalang.

Orang yang membuat  polisi tidur ini mengandaikan orang lain yang melintas jalanan itu semuanya tidak tahu adab berlalu-lintas. Bahwa para pengendara semuanya ugal-ugalan, memacu kendaraannya seenaknya seakan-akan itu jalan milik nenek moyangnya. Namun ketika si pembuat polisi tidur itu juga melintasi sebuah polisi tidur di kawasan lain, sesungguhnya dia juga diandaikan tidak tahu adab berlalu lintas. Jadi kedua belah pihak (maaf) sama-sama gilanya.

Pembuatan polisi tidur sebagai alat pengendali dan pengaman pengguna jalan tidak sembarang orang bebas melakukannya. Harus melalui ijin dari pihak berwenang. Aturan larangan tersebut termaktub pada Pasal 28 ayat (1), “Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerusakan dan/atau gangguan fungsi jalan”. Ayat (2), “Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi perlengkapan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1)”.

Ketentuan pidana bagi yang melanggar Pasal 28 ayat (1) dan (2) diancam hukuman pidana sebagaimana diterangkan dengan rinci pada Pasal 274 ayat (1) dan (2). Dan Pasal 275 ayat (1) dan (2) UU Nomor 22 Tahun 2009.

One response

  1. samsul

    sungguh teganya

    Juli 27, 2012 pukul 1:45 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s